Selasa, 03 Desember 2013

Innalillah

Waktu kecil nyanyi..
"Ambilkan Bulan, Bu"

.Waktu ABG nyanyi..
"Aku Datang Bulan, Bu"

.Waktu dewasa nyanyi..
"Sembilan Bulan, Bu"

.Waktu tua nyanyi..
"Panggil amBulan, Bu"

Note : Tapi nyatanya banyak yang belum dewasa tapi udah 9 bulan..

Minggu, 17 November 2013

Uang atau Tuhan Boy


Pagi-pagi aku sudah digenjot oleh hal-hal yang tidak aku suakai. Terlalu egois mungkin ya. Tapi itulah aku, ketika berbicara didepan umum, sama teman-teman bahkan kepada Tuhanpun aku mengakui aku egois. Oleh sebabitulah aku ingin berubah, siapa tahu kan,,, ketika aku blak-blakan ngomong. Aku dihadapkan dengan orang yang blak-blakan juga. insyaAllah tu, aku berubah… hehehe…

Sahabat semua. Sebelum aku pergi melanjutkan bisnisku --minta doanya ya, agar semua dipermudah--, aku mencoba meluangkan waktu untuk menulis. Bukan hobby sih, hanya seru saja. Aku tidak memiliki temen curhat, kecuali computer mungilku ini.

Oke sob… aku teringat dengan tulisanku kemaren, yang ngebahas tentang “antara pembisnis dan pesimis”.. disitu menceritakan tentang dua orang mahasiswa yang sedang berdebat. Intinya cewek tu mengajar, cowok mencari.. cewek diberi, cowok memberi, urang lebih begitulah kalimat-kalimat yang terurai pada cerita tersebut.
Aku jadi teringat ketika aku Tanya kepada segelintir sahabat-sahabat baruku ketika mereka mengambil jurusan, terutama yang mengambil jurusan kependidikan, ketika terlontar dariku bertanya mengapa mereka mengambil jurusan FKIP, jawabnya antara lain :

Ingin menjadi pegawai negeri
Gajinya lumayan gede’
Ada gaji pensiunnya
Rata-rata menjawab seperti itu, aku heran…. Kenapa tidak ada yang mengatakan :
Ingin menjadikan anak bangsa yang berpendidikan IQ, SQ, EQ-nya mantap
Ingin menjadikan Indonesia mencipta anak didik yang berkwalitas
Ingin menjadikan anak Indonesia yang mandiri
Hehe… mungkin jawaban barusan yang aku utarakan terlelu tinggi mungkin ya, ngayalnya minta ampun dah, dan aku yakin sebagian orang komentar bahwa aku ketinggian dalam berpendapat.

Oke kita bahas bos…

Tidak asing pada kita, “guru adalah pahlawan tanpa jawa”--- masih belum menginjakan kaki kebangku sekolahpun aku sudah diberitahu kalimat tersebut. Jika kita kaji dari waktu itu, seharusnya kalimat tersebut sudah menjadi darah daging pada diri kita. Tapi saying, kalimat hanya tinggal kalimat, tidak pernah dikaji secara dalam, dan makna kalimat tersebut sangat sedikit yang memahaminya bahkan makna itu sendiri sudah berubah oleh system yang selalu berjalan.

Guru ialah mutiara, para ulama dalam islam tidak lepas dari guru. Dan guru dalam islam disebut dengan imam, ulama, khiyai, ustadz dan sejenisnya.

Guru mengajarkan ilmu, menyampaikan apa-apa yang tidak diketahui oleh muridnya. Ketika seorang guru menyampaikan dengan hati, dengan nurani, tanpa harus digaji, tanpa pamrih, maka disitulah akan didapatkan kedudukan guru yang amat teramat mulia disisi Allah. Dan InsyaAllah jaminannya Syurga.

kita tinggal dulu membahas guru, kita bahas makna ikhlas. Kita tahu, ikhlas merupakan suatu perbuatan yang kita lakukan tanpa ingin mendapat imbalan. Tanpa ingin dipuji, tanpa ingin dikasihani, eh---semacamnya lah, yang jelas ikhlas itu tertuju hanya karena Allah, ingin Ridho Allah, dan ingin mendapat kasih saying Allah. Sedikitpun tidak ingin mendapatkan sesuatu dari manusia. Dan ketika orang itu sudah ikhlas, maka Allah yang campur tangan dalam urusan hidupnya. Dan jika Allah sudah campur tangan, semua akan berjalan lancer, tidak mungkin bagi manusia, tapi mungkin bagi Allah.. kunfayakun.

Kedudukan guru menjadi Istimewa dihadapan Allah jika guru akan mengajar dengan ikhlas, hanya mengharap ridho Allah, dan benar-benar Karena ingin menyampaikan ilmu Allah dan membuka pintu syurga untuk beramai-ramai memasukinya dengan ilmu yang disampaikan.

Kita kaitkan dengan cara pandang, motivasi mereka-mereka yang duduk di jenjang sarjana yang mengambil ilmu mendidik. FKIP.

Jika cara pandang mereka terarah pada gaji … saya bertanya dimana ikhlasnya ?.... dapat ngga’ ridho tuhannya.
Jika cara pandang mereka terfokus pada pegawai negeri… mana ikhlasnya ?... dapat ngga’ Ridho-Nya.
Jika motivasinya ingin gaji gede’,,, kerjanya mudah dan bias mengumpul harta melimpah… lha… mana ikhlasnya Sob… kedudukan dan makna seorang guru sebenarnya dimana ?... sadar donk ah…

Jika itu diterapkan, Indonesia bukan meningkat kedepannya nanti, malah mengalami kemunduran, kwalita anak bangsa anjrok. Kenapa, karena sedikit, TIDAK IKHLAS dalam bertindak.

Allah ridho pada orang menyerahkan semua urusannya kepada Allah “Ikhlas”… berarti jika tidak ikhlas maka Allah ?.....

Ketika aku sampaikan hal tersebut pada mereka-mereka yang mengambil jurusan FKIP, rata-rata mereka marah, ya iyalah, orang salah kan pasti marah.. hehhe…

Kebanyakan mereka berkata begini padaku :
Emangnya lho ngga’ perlu duit min. idup tu pake’ duit. Semua pake’ duit. Tanpa duit tidak bias hidup. Kerja itu Karena kita perlu duit. Jika kerja tidak mengharap duit, itu namanya orang bodoh min.

Lumayan jawabannya.. aku jawab begini…
Iya, semua harus pake’ duit, benar tuh,,, 100% SALAH Boy.. terima kasih udah bilang aku bodoh. Karena hanya orang bodohlah yang berkata ceroboh dan itu termasuk aku.

Gini boy, jika hidup itu pake’ duit, kenapa orang banyak duit identik dengan korupsi.. kenapa orang banyak duit identik dengan was-was, tidak tenang dalam hidup, sakit-sakitan. Dan orang yang banyak duit identik dengan perampokan, ditodong ketika jalan. Hidup perlu tenang boy, jika tidak tenang bukan jidup namanya, tapi kacau.

Kita hidup perlu tuhan, bukan duit, kita hidup pake’ tuhan, bukan pake’ duit, kita hidup musti dengan tuhan, dan kita pasti hidup jika mengenal tuhan. Kerja itu mengharap ridho tuhan, bukan karena uang. Guru itu mulia lho,,, jangan dijadikan sumber penghasilan eteri donk.. tapi jadikan lading amal untuk menuju syurganya Tuhan. Jika Anda ingin hidup berlimpah materi, jangan jadi guru donk.. tapi jadilah pengusaha.

Jika hidup kita mentergantungkan penuh pada duit, kacau boy,,, duit dibuat oleh manusia, ada mesin cetak khusus yang membuatnya, dan mesin itu ciptaan manusia, ada ngga’ Allah mencipta mesin, tidak ada toh,,,

Mesin ngga’ punya otak, tergantung gimana kita ngoperasikannya. Dan yang lebih parahnya, jika kita tidak operasikan tu mesin, jalan ngga’ dia, beroperasi ngga’ dia, tidak kan, dia perlu manusia. Dan manusia yang menjalankan tu mesin pun manusia-manusia pilihan, manusia khusus. Jika orang yang mengoperasiakan mesin itu sakit atau mati ketimpa oleh mesin itu sendiri, jalan ngga’ mesinnya, sedih nggga’ mesinnya mendengar yang membuatnya meninggal, ngga’ kan. Dan jika kita tunduk pada tu mesin, tunduk pada hasil olahannya, saya pasti mengatakan ANDALAH ORANG BODOH. Mending saya bilang anda orang bodoh, bahkan agama mengecap anda orang sesat, SYIRIK boy, dan syirik itu dosa yang tidak terampuni oleh Allah kecuali tobat nasuha.

Heran aku, ko’ bias-bisanya dunia pendidikan mengajarkan bibit-bibit pendidik ngomong seperti itu, sangat bertentangan dengan agama. Kita umat beragama boy, wajib kita taati agama, peraturan agama harus kita pelajari dan kuasai. Jika anda menjabat seorang guru, dan pola piker anda tertuju pada uang, maka saya sebagai pengusaha akan mengeluarkan anda dari Indonesia. Akan membuat anda jadi pengamen. Hidup dijalanan. Dan itu mendih lho… mungkin aku akan mengusih anda dari muka bumi, terserah lho dah, hidup dibulan ke’… hidup dimana ke’, terserah lhu…

Dia jawab gini.. emangnya kamu min yang punya ni bumi… tuhan yang punya bumi ni min, sadar lah.. “dia mencoba nasehatin aku dengan ngebawak nama tuhan.

Ops… kataku, anda menyebut nama tuhan, siapa tuhan anda, tuhan anda uang kan, duit kan, atau mesin kan.. jangankan anda, tuhan anda saja bias aku hancurkan, aku sobek-sobek. Apalagi diri anda, sangat mudah lho… “panas kayaknya dia, saking panasnya dia tidak berkutip satu katapun”… karena berkata dengan orang bodoh kayak saya kali ya.. hehehe…

Lanjutkan…

Benar lho sahabatku semua, motivasi mereka-mereka yang duduk di dunia didik yang akan diberi amanah untuk mendidik motivasi mereka sangat salah “kebanyakan”, tertuju pada PNS dan uang. Jika ingin uang banyak, jangan jadi guru, jadi pengusaha boy. Pengusaha yang dermawan, banyak uang, banyak jaringan, banyak kepingan tanah disyurga “kata teman ku Nani”.
Sangat sedikit yang benar. Yang kaya’ gini ni yang harus kita rubah, dan harus dikasih jalan yang baik dan benar.

Kesimpulnnya. Kedudukan guru itu mulia, tapi tidak semua guru mulia, jika cara pandang guru itu salah, tidak sedikitpun dia mendapatkan kedudukan yang mulia.

Apalagi, --ini mungkin ya—mungkin sebelum terjun langsung mengajar, sebelum menjadi sarjana, guru mengangkat sumpah akan mengajar dengan hati nurani. Aku bangga itu. Bahkan sumpah mereka “mungkin” berjunjungkan Al-Qur’an.. subhanallah.

Sumpah sahabat, itu sumpah lho,,, tapi jika prakteknya Anda mencari materi dalam mengajar, ingin mengejar gaji gede’… salahkah jika aku katakana, Anda melanggar sumpah anda. Sadarlah boy. Guru itu mulia, jangan anda kotori kemuliaan guru karena uang. Jaga amanah tersebut dengan Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah SAW.

Semoga bermanfaat sahabat..
Jarum jam udah nunjuk aku dan memerintahkan aku harus mandi,,, belum mandi ni ceritanya,, hehe…
Oke sob….
Ws…wr…wb….

antara pembisnis dan pesimis


Niat...........
Motivasi Yang Tinggi...
Ingin Cepat Sukses...
Tidak Ingin Menjadi Pegawai Negri...
Ingin Swasta...
Usah Bebas....
Tidak Terikat...
Tidak Terstruktur....

Itulah Motivasi Awalku Kulyah....
Dalam Menjalaninya, Selama Perkuliyahan. Seakan-Akan Aku Dikekang Dan Dibiarkan Begitu Saja Dengan Alurku Sendiri. Malah Kuliyah Yang Berbasis Bisnis Hanya Symbol Saja. Disana Sama Sekali Tidak Aku Temukan Cara-Cara Berbisnis Dan Trik-Trik Mudah Sukses Berwirausaha.

Tapimungkin itulah pelajaran sesungguhnya bagi pembisnis, wajib mencari, bukan diberi..... insyaAllah aku yakinkan dan selalu aku positifkan...

Bagiku Seorang Lelaki Itu WAJIB Hukumnya Menjadi Pengusaha. Beda Dengan Wanita, Wanita Itu WAJIB Hukumnya Mendidik, Karena Mendidik Dan Mengajar Itu Sifat Wanita. Laki-Laki Bertugas Mendidik Ibu “Istri” Dan Memberi Nafkah Keluarga. Dan Ibu “Istri”Lah Yang Mendidik Anak. Kenapa, Karena Yang Amat Teramat Dekat Dengan Si Anak Ialah Ibunya.

Suami Harus Berbisnis, Harus Berwiraswasta. Pengalaman, Aku Heran, Kenapa Banyak Teman-Teman FKIP “Cwok-Cwok” Nya Lembek-Lembek. Ternyata Mereka Diajarkan Cara Mereka Yaitu Mendidik. Woy… Mendidik Itu Harus Dengan Hati, Agar Apa Yang Diajarkan Masuk Kehati.

Mereka Berkata “Siswa FKIP Cwok”.. Mereka Protes Ketika Aku Ngomong Kayak Gitu Kepada Mereka “Lembek-Lelet”… Mereka Ngomong Kayak Gini…. Fungsi Lelaki Disekolah Ialah Sebagai Kepala Sekolah Boy… Kepala Itu Harus Lelaki.. Ujar Mereka.
Tersenyum Aku… Dan Membalas Perkatan Mereka Kayak Gini “Kanan”--- Bupati Dan Presiden Saja Bisa Cewek, Apalagi Hanya Seorang Kepala Sekolah—Masih Wajib Kumumnya Seorang Cewek—Bahkan Cowok Haram Jadi Kayak Gituan”…

Kayaknya Setelah Aku Ngomong Gitu Mereka Panas Banget, Tapi Aku Tidak Takut, Panas Orang Yang Lembek Kan Ngga’ Terlalu Tu. Jadi Aku Jelaskan…..

Boy…. Waktu Selalu Berubah, Bahkan Satu Detik Pun Waktu Tidak Pernah Mundur. Dan Kita Dituntut Untuk Berubah Dan Merubah.
Ke Poin Awal. Cewek Dan Cowok Itu Beda Boy… Cowok Itu Mencari Sedangkan Cewek Itu Menjaga. Jika Keduanya Ditukar Ataupun Disamakan, Kacau Jadinya.

Begitu Juga Dengan Kepemimpinan, Pernah Ngga’ Anda Terpikir, Kenapa Imam Itu Selalu Lekaki, Ko’ Ngga’ Sesekali Perempuan Sih… Jawabnya Karena Lelaki Itu Pemimpin Boy… Wanita Itu Dipimpin.

Kembali Kependidikan… Mendidik Itu Tugasnya Cewek, Tugas Lelaki Itu Bukan Kepala Sekolah, Itu Keliru, Tapi Tugas Lelaki Itu Mendirikan Sekolah. Memerintah, Memimpin Dan Memberi Gaji Para Guru-Guru… Bukan Sebaliknya Cowok Ko’ Malah Mintak Gaji.. Sadar Donk…

Jika Dikaji Dengan Hadisnya Rasulullah Dan Al-Qur’an, Kayaknya Terlalu Jauh Untuk Anda… Jika Aku Jelasnkan Dengan Hal Tersebut, Melihat Diri Anda Sekarng.. Anda Pasti Mengecap Saya Orang Yang Sok alim.. Agar Tetap Setara Dalam Komunikasi… Kita Main Akal Saja. Untuk Rincian Hadisnya, Anda Cari Sendiri Ya Boy…

Itulah Dialog Ketika Aku Dibilang Sok Jago Dalam Berbisnis, Lebay Tu Cowok Ujarku…..
Sampai-Sampai Aku Mengecap Anak FKIP “Cowok’nya Lembek”…
Tapi Itu Dalam Kondisi Aku Sedang Panas…
Hehe.. Itulah Aku, Sering Kebablakan Dalam Berbicara….
Yang Kenal Aku Udah Lama, Insyaallah Ngerti…


Rabu, 16 Oktober 2013

Kejujuran Atau Contekan

mencari ilmu itu wajib hukumnya. sampai Allah mengatakan lewat Rasul-Nya :
Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. aku teringat pertanyaan kawanku ketika di SMK dulu, Emi namanya. kenapa tida kenegeri arab atau mekah, sedangkan arab dan mekah ialah negaga Islam. mengapa harus ke negara kafir.
mungkin  karena begitu wajibnya menuntut ilmu, sampai-sampai kita harus mencarinya kenegeri kafir sekalipun.

SMK berakhir, aku melanjutkan kuliyah, dalam perkuliyahan yang sangat penuh cerita--dari yang sedih sampai begitu senangnya--- aku menjadi semakin mengerti pendidikan yang sebenarnya. aku pulang kampung semakin dipandang oleh masyarakat desaku. aku baru mengalami dan semakin yakin bahwa Allah PASTI mengangkat derajat orang-orang yang berilmu.
tentunya semakin berilmu ita harus semakin bisa memilih mana yang terbaik dari yang baik.

SD menulis dan membaca, SMP diajarkan pemahaman atas apa yang dibaca, SMA-Sederajad---diajarkan penerapan, tapi kuliyah aku heran, kenapa sistem belajar seakan kembali ke SD, SMP, SMA....bahkan menghilangkan SD-SMA.

ilmu yang didapatkan harus kita selubungi dengan Akhlak, kejujuran, dan memperbaiki kwalitas, bukan memperbanyak kwantitas.
semakin tinggi belajar, agama semakin ditinggal, kejujuran semakin diterbelakangkan, tuhan semakin dillupakan. padahal Agama itu penyempurna. Islam itu penyempurna.

kasus :
seorang mahasiswa datang kekampus tepat waktu. karena terbiasa diajarkan kedisiplinan dari SD-SMAnya. dia menjadi terbiasa disiplin.
datang keruang kelas, jam sudah menunjukan waktunya ngajar mengajar dimulai. hampir 30 menit dalam ruangan, tapi tidak ada satunpun teman-temannya datang.
dia berkata "mungkin hari ini tidak masuk kulyah"---ketika dia pulang--- dosen masuk, lalu sms keketua kelas bahwa ngajar-mengajar dimulai.
anak yang datang pertama telat dan dikeluarkan--- anak tersebut terima, mungkin karena dia tidak mau bertanya--- ujarnya.
kejadian ini berulang kali terjadi pada dirinya. ia mencari solusi agar kejadian ini tidak akan terjadi lagi pada dirinya.

merubah pola pikir :
sebelum berangkat kekampus, dia selalu sms teman-temannya dan bertanya "masuk apa tidak"....
hasilnya emmmmbbb... lumayan, dia sering ikut pelajaran, tapi sering telat, karena teman-temannya ngasih kabar ketika dosen udah masuk kelas.
dia menjadi terkenal dengan LELETNYA. padahal dia merupakan anak yang paling disiplin dibanding teman-temannya bahkan dosennya sekalipun.
dia terima omelan dosennya bahkan dia sering ditertawakan oleh teman-temannya jia masuk kelas karena terlambat.

dia berpikir lari, dan mencari solusi lagi :
kembali keawal, dia ontime datang, ada atau tidaknya dosen, dia mendisiplini jadwal. walaupun tidak ada dosen, dia tetap menunggu sampai waktu belajar yang tercatat dijadwal habis, disamping itu dia juga tidak lupa untuk sms teman-temannya bahwa "masuk dan ada tidak dosennya".
dia tetap telat, kenapa... ternyata ketika teman-temannya masuk diruang yang berbeda atas apa yang telah terjadwalkan.
dia terkenal bukan sebatas LELETnya,,, tapi INFORMASIpun ketinggalan.

dia kembali berpikir dan mengomentari dirinya sendiri---ko' aku jadi gini--- kedisiplinanku mulai memudar.

ketika semester tiba, ujian selesai dan waktunya melihat nilai....--- nilai yang didapakannya 75% C.... wah-wah anak yang disiplin itu kaget dan semakin kesal. masuk kamar dan menangis, ---mengapa nilaiku jelek---.. dia baru tersadar dia SERING TELAT masuk kampus.

semester dua :
tidak berhenti, dia selalu mencoba beradaptasi dengan lingkungannya. mencoba belajar lebih dan labih, selain memperbaiki kedisiplinan, menguatkan belajarnya, dia juga memperbaiki diri untuk semakin dekat terhadap Rab-nya.

tidak terasa ujian kembali tiba dan nilai kembali diperlihatkan. bukan membaik, malah memburuk nilai yang tertera. dia heran apa yang salah pada dirinya.

semester tiga dia biasa-biasa saja, malah memburuk dari prilakunya, yang disiplin menjadi tidak disiplin, yang rajin belajar menjadi malas belajar. yang selalu berpakaian rapi, menjadi acak-acakan. dia setengah putus asa terhadap lingkungannya. ketika ujian kembali tiba, nilai kembali diperlihatan, eh---malah nilainya menjadi bertahan.

dia kembali berpikir, dirinya yang salah ataukan sistem belajar yang salah.
dia mencoba aktif diluar kampusnya dan meninggalkan organisasi yang digelutinya dikampus. menjadi liar didunia usaha yang sangat diminatinya diluar.
kembali semester tiba, nilainya semakin memburuk. tapi cara dia memandang hal tersebut menajadi beda---- bukan nilainya yang buruk, tapi yang memberi niai itulah yang buruj-- ujarnya.

karena aktif diluar, mencoba berbisnis, ikut seminar bisnis, pergi kehotel-hotel ikut seminar, bahkan dia pernah ikut seminar dihotel megah dengan meninggalkan kuliyan.
itu menjadi biasa, dikampus dia dicap merah, tapi dia berkata "kampunya telah membuat dia melanggar lampu merah dalam hidupnya.
teman-temannya menganggap dia anak merah. tapi dia berkata, justru dialah anak yang pergi ketika lampu hijau dinyalakan. bukan berhenti ketika lampu hijau menyala. jika berhenti lampu hijau menyala ---siapa yang salah--- aku rasa anda dapat berpikir.

sampai waktunya magang. magang ini merupakan salah satu persyaratan yang diadakan dikampus sebagai syarat wisuda.
Dia dengan berat mengikutinya, dia takut, hasilnya menjadi jelek lagi. perjuangannya tidak dinilai dosennya.
meskipun berat hati, dia tetap ikuti.
dua bulan magang. sampai waktunya masuk kelas kembali. awal masuk kelas langsung dikeluarkan dosen. dia bingung, apa sebabnya. ternyata karena dia tidak mengumpul tugas.
"gimana mau mengumpul tugas, orang baru masuk dan baru selesai mangang ko', dan mangang itukan diadakan oleh kampus juga, jadi kenapa karena manang jadi dikeluarkan"--aneh kan ?...

dosen yang bersangkutan membentaknya, bahwa yang tidak mengumpulkan tugas tida bolah mengikuti mata kuliyah yang bersangkutan.
dia meminta toleransi agar dipertimbangan magangnya, tapi sia-sia. seaan akan ketika dosen berkata A tidak mungkin dirubah menjadi B, apalagi Z wah jauh sekali.

ketika pulang, pas waktu itu hari kamis, dia ada kegiatan luar dan harus membeli kue untuk kegitan buka senin kamis bersama. pulang dari membeli kue, dia dapat kabar ada toleransi dari dosen harus mengerjakan tugas dari awal sampai yang akan dikumpulkan hari itu. batas waktunya jam 18.00. datang dari beli kue jam 17.30.... dan harus menyiapkan dan beres-beres dan mengomandangkan azan. apa mungkin meninggalkan tanggung jawab hanya karena menyontek.

sering didengar, bahwa dalam belajar kita dilarang nyontek, bahkan dari SD sekalipun kita dilarang nyontek.
tapi kali ini dia tidak terima. --aku belajar tinggi bukan memperdalam nyontek, apalagi nyontek sampai meninggalkan tanggung jawab dengan Allah. itu HARAM baginya.

apakah ini sistem. apakah ini sistem untuk menjadi terbaik dengan menuntut ilmu.
jika yang memberi ilmu tidak sesuai dengan aturan, apakah harus ditaati ?...
apabila yang memberi ilmu itu tidak disiplin, sedangkan setiap perkataannya dia mengatakan harus disiplin--apakah harus ditaati ?....
jika yang memberi ilmu tidak mengenal Allah, apakah harus diikuti...?

padahal jelas Allah melarang hal itu, sampai-sampai Allah mengatakan Jika orang tua kita sekalipun jika dia memberi kita ilmu yang salah WAJIB bagi kita meninggalkannya.

dia kesal, dan semakin memperkuat tekat dan tujuannya. dia sekarang meninggalkan Dunia kampusnya. dan mencari ilmu diluar bekerja sama dengan perusahaan-perusahan. investasi dengan puluhan juta rupiah.

angka kampusnya semakin memburuk.
sekarang dia bertahan kulyah hanya bermodal dua hal :

yang pertama :
 jelas orang tuanya, karena dia yakin, orang tuanya tidak mengerti apa itu nilai, yang orang tuanya tahu hanya Topi segi LIMANYA. wisudanya. tapi tidak mengerti sama sekali makna dari wisuda itu sendiri. dari itu untuk membahagiskan orang tuanya sebagi bukti dia kuliyah dia WAJIB wisuda.

yang kedua :
karena seorang cewek yang dia sukai. benar, cinta jika diarahkan kepada agama akan membuahkan hasil yang sangat positif. buktinya anak ini. dia bertahan, berjuang, berbisnis, dan konsisten bahkan semakin taat kepada Rab-nya. semakin berserah kepada Allah, semakin rajin sholat malam--meskipun sebatas meminta disatukan hati kepada cewek yang dia suka-- tapi, kedekatannya kepada Rab-nya semakin dekat.
dia memutuskan harus WAJIB wisuda karena cewek yang dia suka.
meskipun komunikasinya terhadap cewek itu semakin jauh, dia yakin itulah tanda Allah yang menjaga hubungannya. bukan Hp, SMS dan sejenisnya yang seakan-akan Allah tidak maha menjaga.

itulah AKU-----------------------------------------------------------------------------
aku kehilangan disiplin karena kamusku---- padahal dari keluarga aku diajarkan disiplin, SD aku diajarkan disiplin, SMP aku diajarkan disiplin, SMA aku diajarkan disiplin. tapi ketika kuliyah aku diajarkan MERUSAK disiplin.

dikeluarga aku diajarkan kejujuran, SD aku diajarkan kejujuran, SMP-SMA aku diajarkan kejujuran, tapi kulyah aku diajarkan MENYONTEK demi dinai 1-100---E-A.

dari keluarga aku diajarkan taat beragama, SD-SMP-SMA aku diajarkan taat beragama, tapi kulyahku, aku malah disibukan dengan tugas-tugas yang melalaikan agama. mulai masuk kelas disaat azan tiba. keluar disaat akhir waktu sholat.

aku ingin, sahabatku tidak senasib denganku semua tidak senasib denganku.
sahabatku yang akan menjadi tenaga didik,aku harap tidak mengajar yang melalaikan agama, menghilangkan disiplin. mengajarlah dengan hari. bukan karena gaji. mengajarlah dengan alam, bukan dipenjara dalam ruangan kelas.
guru sangat mulia kedudukannya di agama, bahkan Allah enjanjikan syurga terhadap para guru-guru. tentunya guru yang mulia seperti yang disebutkan diatas.

tapi...
jika mengajar karena pamrih, karena gaji dan sejenisnya, melalaikan agama dan menghilangkan ketaan anak terhadap Rab-nya,, yakin setiap tegukan air dan suapan nasi menjadi aliran yang deras kepintu gerbang azabnya Allah.

siswa sepertiku, tidak akan pernah ikhlas terhadap perlakuan gurunnya yang selalu marah karena kejujuran dan ketaatannya terhadap agama. apalagi dimarah dan dikeluarkan dikarenakan disiplin beragama.
maka ---aku tanamkan dalam dada ini, aku selimuti diri ini, dan berjanji...
"HARAM BAGIKU MENGIKUTI SEORANG GURU YANG MELANGGAR ATURAN DAN TIDAK MENGENAK ALLAH SWT"


goresan Air mata Syurga.

Jumat, 11 Januari 2013

inilah kampusku

Jadi penulis, terkenal dan bisa menjelajahi dunia. Itulah cita-citaku. Sebenarnya keinginan itu tumbuh bukan terlahir dari saya sekolah SD waktu ditanya guru, bukan dari suatu kata yang dicari ketika ditanya teman-teman waktu bermain. Tapi kainginan tersebut tumbuh ketika saya sudah menginjakkan kaki didunia kampus.
Kampus memang sangat membuat saya berbalik 1800, dunia kampus dunia yang amat termat menyenangkan. Tapi jika tidak dihadapi dengan positif, maka ia dapat membuat kita tersesat dan larut dalam kekliruan. Ini saya kemukakan bukan berarti saya tidak terlarut dan sempurna positif dalam dunia kampus, bukan sama sekali. Tapi ini merupakan suatu definisi saya tentang kampus aja. Saya rasa tidak salah jika saya katakan itu, ataupun jika salah, give me sorry ya..hehe…
Bukan cuman protes ataupun berkomentar, saya sangat dituntut untuk mengemukakan pendapat saya tentang dunia kampus sa’at ini, khususnya kampus saya.
KETIKA  AKU BERTANYA
Banyak yang membuat saya bertanya tentang kampus dan apa itu itu kampus. Waktu sekolah, saya sangat memandang tinggi yang namanya kampus. Bagi saya, jika sudah duduk didunia kampus dan kuliyah, kita akan mendapat kedudukan yang tinggi dan dihormati.
Sekarang, saya sudah kuliyah dan duduk didunia kampus. Tidak seperti yang saya pikirkan, bagi saya kampus itu sangat banyak mengajarkan yang negatif. Baru masuk saja sudah diajarkan keegoisan, gila kedudukan dan kekerasan oleh para sonior-sonior. Baru masuk kuliyah saja sudah diajarkan ketidakdisiplinan.. gimana tidak, junior disuruh datang tepat waktu oleh para soniornya ternyata soniornya sendiri tidak disiplin dan teratur. Itu saya alami sendiri waktu masuk kampus.
Bukan cuman itu, ketika masuk kampus, saya sangat penasaran dan sangat ingin bertemu dengan yang namanya dosen, tapi ternyata tidak, saya malah dihadapkan dengan sonior yang gila pangkat dan kedudukan. Itukah kampus. Saya sempat ingin berhenti berjalan dalam dunia kampus. Tapi saya mencoba untuk bertahan, ternyata hasilnya sampai saat ini saya masih tetap menikmati udara kampus, emmmm…yeah meskipun bagi saya udaranya sangat tercemar.
Yang memberikan kita pelajaran, saran dan tata cara bersikap didunia kampus itulah dosen. Bagi saya dosen itu seperti seorang malaikat yang selalu memberikan saya jalan ketika saya bertanya dimana jalan dan arah tempat saya mencapai cita-cita saya. Tapi hal ini lagi-lagi tidak. hanya sebagian kecil saja dosen yang tahu akan keinginan seorang mahasiswa seperti saya.
Bu’ erlinda, dia adalah seorang dosen yang sangat amat perhatian dan sangat faham bagaimana cara mengajar. Dia benar-benar malaikat yang saya temukan dikampus. Mengerti dan tahu akan keinginan saya, tegas dan sangat disiplin. Saya amat teramat suka akan hal itu.
Kedua bu’ aini mu’ani. Kebetulan dia dosen PA saya dikampus. Orang tua saya dalam dunia pembelajaran tingkat perguruan tinggi. Pada awalnya saya sangat sebel yang namanya bu’ Ani Mua’ni. Disebabkan karena  dia orang tua kedua saya, jadi saya mencoba untuk bersabar ketika berhadapan dengan dia yang galaknya mintak ampuuunn. Karena kegalakannya itu, saya menemukan kasih sayang darinya. Luar biasa dia sangat perhatian dan tegas. Kali ini apapun yang iberikannya, saya yakin itu bukan sebuah kata yang asal keluar dari benaknya, tapi itu merupakan suatu nasehat yang memberi seribu manfaat untuk saya menyeselaikan pembelajaran. 11-01-2013
To be continue….