Pagi-pagi aku sudah digenjot oleh
hal-hal yang tidak aku suakai. Terlalu egois mungkin ya. Tapi itulah aku,
ketika berbicara didepan umum, sama teman-teman bahkan kepada Tuhanpun aku
mengakui aku egois. Oleh sebabitulah aku ingin berubah, siapa tahu kan,,,
ketika aku blak-blakan ngomong. Aku dihadapkan dengan orang yang blak-blakan
juga. insyaAllah tu, aku berubah… hehehe…
Sahabat semua. Sebelum aku pergi
melanjutkan bisnisku --minta doanya ya, agar semua dipermudah--, aku mencoba
meluangkan waktu untuk menulis. Bukan hobby sih, hanya seru saja. Aku tidak
memiliki temen curhat, kecuali computer mungilku ini.
Oke sob… aku teringat dengan
tulisanku kemaren, yang ngebahas tentang “antara pembisnis dan pesimis”..
disitu menceritakan tentang dua orang mahasiswa yang sedang berdebat. Intinya cewek
tu mengajar, cowok mencari.. cewek diberi, cowok memberi, urang lebih begitulah
kalimat-kalimat yang terurai pada cerita tersebut.
Aku jadi teringat ketika aku Tanya kepada
segelintir sahabat-sahabat baruku ketika mereka mengambil jurusan, terutama
yang mengambil jurusan kependidikan, ketika terlontar dariku bertanya mengapa
mereka mengambil jurusan FKIP, jawabnya antara lain :
Ingin menjadi pegawai negeri
Gajinya lumayan gede’
Ada gaji pensiunnya
Rata-rata menjawab seperti itu, aku
heran…. Kenapa tidak ada yang mengatakan :
Ingin menjadikan anak bangsa yang
berpendidikan IQ, SQ, EQ-nya mantap
Ingin menjadikan Indonesia mencipta
anak didik yang berkwalitas
Ingin menjadikan anak Indonesia
yang mandiri
Hehe… mungkin jawaban barusan yang
aku utarakan terlelu tinggi mungkin ya, ngayalnya minta ampun dah, dan aku
yakin sebagian orang komentar bahwa aku ketinggian dalam berpendapat.
Oke kita bahas bos…
Tidak asing pada kita, “guru adalah
pahlawan tanpa jawa”--- masih belum menginjakan kaki kebangku sekolahpun aku
sudah diberitahu kalimat tersebut. Jika kita kaji dari waktu itu, seharusnya
kalimat tersebut sudah menjadi darah daging pada diri kita. Tapi saying,
kalimat hanya tinggal kalimat, tidak pernah dikaji secara dalam, dan makna
kalimat tersebut sangat sedikit yang memahaminya bahkan makna itu sendiri sudah
berubah oleh system yang selalu berjalan.
Guru ialah mutiara, para ulama
dalam islam tidak lepas dari guru. Dan guru dalam islam disebut dengan imam,
ulama, khiyai, ustadz dan sejenisnya.
Guru mengajarkan ilmu, menyampaikan
apa-apa yang tidak diketahui oleh muridnya. Ketika seorang guru menyampaikan
dengan hati, dengan nurani, tanpa harus digaji, tanpa pamrih, maka disitulah
akan didapatkan kedudukan guru yang amat teramat mulia disisi Allah. Dan InsyaAllah
jaminannya Syurga.
kita tinggal dulu membahas guru,
kita bahas makna ikhlas. Kita tahu, ikhlas merupakan suatu perbuatan yang kita
lakukan tanpa ingin mendapat imbalan. Tanpa ingin dipuji, tanpa ingin
dikasihani, eh---semacamnya lah, yang jelas ikhlas itu tertuju hanya karena
Allah, ingin Ridho Allah, dan ingin mendapat kasih saying Allah. Sedikitpun tidak
ingin mendapatkan sesuatu dari manusia. Dan ketika orang itu sudah ikhlas, maka
Allah yang campur tangan dalam urusan hidupnya. Dan jika Allah sudah campur
tangan, semua akan berjalan lancer, tidak mungkin bagi manusia, tapi mungkin
bagi Allah.. kunfayakun.
Kedudukan guru menjadi Istimewa
dihadapan Allah jika guru akan mengajar dengan ikhlas, hanya mengharap ridho
Allah, dan benar-benar Karena ingin menyampaikan ilmu Allah dan membuka pintu
syurga untuk beramai-ramai memasukinya dengan ilmu yang disampaikan.
Kita kaitkan dengan cara pandang,
motivasi mereka-mereka yang duduk di jenjang sarjana yang mengambil ilmu
mendidik. FKIP.
Jika cara pandang mereka terarah
pada gaji … saya bertanya dimana ikhlasnya ?.... dapat ngga’ ridho tuhannya.
Jika cara pandang mereka terfokus
pada pegawai negeri… mana ikhlasnya ?... dapat ngga’ Ridho-Nya.
Jika motivasinya ingin gaji gede’,,,
kerjanya mudah dan bias mengumpul harta melimpah… lha… mana ikhlasnya Sob…
kedudukan dan makna seorang guru sebenarnya dimana ?... sadar donk ah…
Jika itu diterapkan, Indonesia
bukan meningkat kedepannya nanti, malah mengalami kemunduran, kwalita anak
bangsa anjrok. Kenapa, karena sedikit, TIDAK IKHLAS dalam bertindak.
Allah ridho pada orang menyerahkan
semua urusannya kepada Allah “Ikhlas”… berarti jika tidak ikhlas maka Allah
?.....
Ketika aku sampaikan hal tersebut
pada mereka-mereka yang mengambil jurusan FKIP, rata-rata mereka marah, ya
iyalah, orang salah kan pasti marah.. hehhe…
Kebanyakan mereka berkata begini
padaku :
Emangnya lho ngga’ perlu duit min.
idup tu pake’ duit. Semua pake’ duit. Tanpa duit tidak bias hidup. Kerja itu Karena
kita perlu duit. Jika kerja tidak mengharap duit, itu namanya orang bodoh min.
Lumayan jawabannya.. aku jawab
begini…
Iya, semua harus pake’ duit, benar
tuh,,, 100% SALAH Boy.. terima kasih udah bilang aku bodoh. Karena hanya orang
bodohlah yang berkata ceroboh dan itu termasuk aku.
Gini boy, jika hidup itu pake’
duit, kenapa orang banyak duit identik dengan korupsi.. kenapa orang banyak
duit identik dengan was-was, tidak tenang dalam hidup, sakit-sakitan. Dan orang
yang banyak duit identik dengan perampokan, ditodong ketika jalan. Hidup perlu
tenang boy, jika tidak tenang bukan jidup namanya, tapi kacau.
Kita hidup perlu tuhan, bukan duit,
kita hidup pake’ tuhan, bukan pake’ duit, kita hidup musti dengan tuhan, dan
kita pasti hidup jika mengenal tuhan. Kerja itu mengharap ridho tuhan, bukan
karena uang. Guru itu mulia lho,,, jangan dijadikan sumber penghasilan eteri
donk.. tapi jadikan lading amal untuk menuju syurganya Tuhan. Jika Anda ingin
hidup berlimpah materi, jangan jadi guru donk.. tapi jadilah pengusaha.
Jika hidup kita mentergantungkan
penuh pada duit, kacau boy,,, duit dibuat oleh manusia, ada mesin cetak khusus
yang membuatnya, dan mesin itu ciptaan manusia, ada ngga’ Allah mencipta mesin,
tidak ada toh,,,
Mesin ngga’ punya otak, tergantung
gimana kita ngoperasikannya. Dan yang lebih parahnya, jika kita tidak
operasikan tu mesin, jalan ngga’ dia, beroperasi ngga’ dia, tidak kan, dia
perlu manusia. Dan manusia yang menjalankan tu mesin pun manusia-manusia
pilihan, manusia khusus. Jika orang yang mengoperasiakan mesin itu sakit atau
mati ketimpa oleh mesin itu sendiri, jalan ngga’ mesinnya, sedih nggga’
mesinnya mendengar yang membuatnya meninggal, ngga’ kan. Dan jika kita tunduk
pada tu mesin, tunduk pada hasil olahannya, saya pasti mengatakan ANDALAH ORANG
BODOH. Mending saya bilang anda orang bodoh, bahkan agama mengecap anda orang
sesat, SYIRIK boy, dan syirik itu dosa yang tidak terampuni oleh Allah kecuali
tobat nasuha.
Heran aku, ko’ bias-bisanya dunia
pendidikan mengajarkan bibit-bibit pendidik ngomong seperti itu, sangat bertentangan
dengan agama. Kita umat beragama boy, wajib kita taati agama, peraturan agama
harus kita pelajari dan kuasai. Jika anda menjabat seorang guru, dan pola piker
anda tertuju pada uang, maka saya sebagai pengusaha akan mengeluarkan anda dari
Indonesia. Akan membuat anda jadi pengamen. Hidup dijalanan. Dan itu mendih lho…
mungkin aku akan mengusih anda dari muka bumi, terserah lho dah, hidup dibulan
ke’… hidup dimana ke’, terserah lhu…
Dia jawab gini.. emangnya kamu min
yang punya ni bumi… tuhan yang punya bumi ni min, sadar lah.. “dia mencoba
nasehatin aku dengan ngebawak nama tuhan.
Ops… kataku, anda menyebut nama
tuhan, siapa tuhan anda, tuhan anda uang kan, duit kan, atau mesin kan..
jangankan anda, tuhan anda saja bias aku hancurkan, aku sobek-sobek. Apalagi diri
anda, sangat mudah lho… “panas kayaknya dia, saking panasnya dia tidak berkutip
satu katapun”… karena berkata dengan orang bodoh kayak saya kali ya.. hehehe…
Lanjutkan…
Benar lho sahabatku semua, motivasi
mereka-mereka yang duduk di dunia didik yang akan diberi amanah untuk mendidik
motivasi mereka sangat salah “kebanyakan”, tertuju pada PNS dan uang. Jika ingin
uang banyak, jangan jadi guru, jadi pengusaha boy. Pengusaha yang dermawan,
banyak uang, banyak jaringan, banyak kepingan tanah disyurga “kata teman
ku Nani”.
Sangat sedikit yang benar. Yang kaya’
gini ni yang harus kita rubah, dan harus dikasih jalan yang baik dan benar.
Kesimpulnnya. Kedudukan guru itu
mulia, tapi tidak semua guru mulia, jika cara pandang guru itu salah, tidak
sedikitpun dia mendapatkan kedudukan yang mulia.
Apalagi, --ini mungkin ya—mungkin sebelum
terjun langsung mengajar, sebelum menjadi sarjana, guru mengangkat sumpah akan
mengajar dengan hati nurani. Aku bangga itu. Bahkan sumpah mereka “mungkin”
berjunjungkan Al-Qur’an.. subhanallah.
Sumpah sahabat, itu sumpah lho,,,
tapi jika prakteknya Anda mencari materi dalam mengajar, ingin mengejar gaji
gede’… salahkah jika aku katakana, Anda melanggar sumpah anda. Sadarlah boy. Guru
itu mulia, jangan anda kotori kemuliaan guru karena uang. Jaga amanah tersebut
dengan Al-Qur’an dan Hadis Rasulullah SAW.
Semoga bermanfaat sahabat..
Jarum jam udah nunjuk aku dan
memerintahkan aku harus mandi,,, belum mandi ni ceritanya,, hehe…
Oke sob….
Ws…wr…wb….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar